Home / Berita Umum / Teror Bom Massal Jakarta Di Sebarkan Lewat Grup Whatsap

Teror Bom Massal Jakarta Di Sebarkan Lewat Grup Whatsap

Teror Bom Massal Jakarta Di Sebarkan Lewat Grup Whatsap – Polisi tangkap seseorang guru di Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang lakukan tindak pidana memberikan bahaya teror bom massal di Jakarta melalui medsos yang berkaitan dengan hasil Pemilu 2019.

” Terduga ini terima tulisan lalu menebarkannya kembali di kelompok WhatsApp HP-nya, ” kata Kepala Bagian Humas Polda Ja-bar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko di Mapolres Garut, Selasa (21/5) seperti dikutip Di antara.

Trunoyudo menjelaskan terduga yang berinisial AS (54) itu adalah guru pendidikan agama berstatus PNS di SMA Kecamatan Cibatu. Dia didapati memberikan bahaya itu memakai telephone selulernya di Kecamatan Cibatu, Kamis (16/5) malam.

” Dari laporan polisi pada 18 Mei, penyidik lalu lakukan penyidikan sampai penyelidikan, dari pengecekan saksi-saksi, bisa aksi pidana serta diputuskan terduga, ” kata Trunoyudo yang dibarengi Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna.

Dia mengutarakan tulisan yang disebarkan terduga itu diraih dari kelompok WhatsApp bernama ‘Prabowo-Sandi’ di telephone genggam kepunyaannya.

Pesan itu ditulis terkait ajakan pengeboman massal di Jakarta pada 21 serta 22 Mei 2019. Pesan itu juga mengibaratkan perbuatan pengeboman massal bagai perang badar yang dijalankan pada bulan Ramadan.

Dalam pesan yang dikirim lagi oleh AS itu juga terdaftar seandainya ada yang ingin ikut, ada logistik peledakan yang dapat diambil di lokasi Menteng, Jakarta Pusat.

Tulisan dalam kelompok WhatsApp terduga itu oleh polisi jadikan barang untuk bukti, selanjutnya telephone genggam punya terduga ditangkap buat penyelidikan seterusnya.

Trunoyudo menyatakan, tulisan yang di terima serta disebarkan terduga itu adalah hoax tidak bisa dibenarkannya hingga dikatakan melanggar hukum.

” Yang pasti ini semua hoax, aktor asal memberikan kabar yang diterimanya, disebarkan terduga ke sejumlah kelompok WhatsApp, ” ujarnya.

Karena tingkah lakunya itu terduga dijaring klausal 6 UU RI Nomer 5 tahun 2018 terkait pemberantasan tindak pidana terorisme, serta klausal 15 UU RI Nomer 1 tahun 1946 terkait ketetapan hukum pidana dengan bahaya hukuman sedikitnya 5 tahun serta maksimum 20 tahun penjara.

About penulis77