Perdagangan Satwa Yang Dilindungi Berhasil Di Gagalkan

Perdagangan Satwa Yang Dilindungi Berhasil Di Gagalkan – Sejumlah 26 ekor satwa liar dilindungi diselamatkan dari kesibukan perdagangan ilegal di Jawa Tengah (Jateng) . Polisi tangkap tiga terduga yang mau jual serta menaruh hewan-hewan itu.

” Ada 1 beruang madu, 5 kanguru, 2 burung kakaktua jambul kuning, 15 ekor burung beo, 2 nuri kepala hitam, serta 1 nuri kelam, ” kata Direktur Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (3/7/2019) .

” Ini hasil bermitra di antara Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim, Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan, serta instansi pemerhati satwa, ” sambung ia.

Dalam peluang yang sama, Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Khusus Bareskrim Polri Kombes Adi Karya Tobing mengatakan pengumpulan bukti-bukti perkara diawali dari terdapatnya info berlangsungnya transaksi penjualan seekor beruang madu pada 14 Juni 2019 di terminal bis Rembang. Di TKP, tersangka aktor yang didapati berinisial S melarikan diri kala memandang petugas.

” Seorang yang didapati berinisial S saat itu akan ambil kiriman dari disangka penjual satwa yang dilindungi. Tapi, saat penyergapan, terduga atas nama S sukses melarikan diri serta club sukses amankan tanda bukti berwujud satu ekor beruang madu serta sebuah handphone punya Saudara S yang terjatuh kala melarikan diri, ” jelas Adi.

Hasil dari kontrol mobile phone punya S, aparat sadari asal beruang madu itu, yaitu dari seorang berinisial MUA alias G. Beruang itu dipasarkan tanpa ada dokumen sah. ” Modus mereka dagang di online, sosial media. Jadi konsumen serta penjual tidak berjumpa, memakai rekening bersama dengan, ” papar Adi.

Adi mengatakan ada dua style modus yang dipakai oleh beberapa pedagang satwa liar. Pertama yaitu libatkan tiga faksi, serta yang ke dua libatkan empat faksi.

” Tiga faksi yang diikutsertakan yaitu penjual serta konsumen yang sepakat lewat sosial media. Lantas memakai layanan rekening bersama dengan (rekber) . Selesai barang dikirim lewat alat transportasi darat, laut, serta diterima oleh konsumen, konsumen menginformasikan pada pemilik rekber untuk melanjutkan dana ke penjual, ” jelas Adi.

” Modus ke dua, adalah ada empat faksi yang diikutsertakan, terdiri atas faksi penjual, broker, konsumen, serta pemilik rekening bersamanya. Yang berlainan yaitu hewan ditawarkan oleh broker jadi penghubung pada konsumen lewat sosial media. Lantas, selesai hewan di konfirmasi diterima oleh konsumen, karena itu pemilik rekening bersama dengan akan kirim uang pada broker, broker transfer pada pemilik hewan itu, ” sambung Adi.

Dengan bekal hasil pengumpulan bukti-bukti itu, aparat mengerjakan penangkapan pada MUA alias G di Kaliwungu, Kudus, Jateng, pada 20 Juni 2019. Dalam rumah terduga ini, polisi menemukannya 15 burung beo yang di taruh dalam sangkar.

” Kami mengerjakan skema yang sama, mengecek handphone terduga MUA serta menemukannya terduga KG, yang kami mencuriga mengerjakan perdagangan satwa liar lewat cara ilegal pula, ” ujar Adi.

Terduga KG diamankan di tempat tinggalnya, Kecamatan Mayong, Jepara, Jateng, di hari yang sama. Di area, aparat amankan 5 ekor kanguru tanah, yang terbagi dalam tiga umur dewasa serta dua umur anakan.

” Besoknya, berdasar pada kontrol beberapa terduga, kami meningkatkan pernyataan mereka serta kembali tangkap satu terduga berinisial AM. Ia kala diamankan bawa dua ekor kakaktua jambul kuning, 2 nuri kepala hitam, serta 1 ekor nuri kelam di SPBU Bumi Rejo, Pati, ” papar Adi.

Pada wartawan, terduga MUA menyatakan beli beruang seharga Rp 8 juta dari Pelabuhan Juwana, Pati, Jateng. Beruang itu mau ia jual kembali. Dan terduga KG menyatakan udah 5 tahun pelihara serta membiakkan kanguru. Anak kanguru itu ia perjual-belikan, tapi ia malas mengatakan berapakah nominal harga satu ekor anak kanguru yang ia jual. ” (Asal kanguru) dari Papua, ” ujar KG.

Polisi menangkap ke-3 terduga dengan Klausal 21 ayat 2 huruf a juncto Klausal 40 ayat 2 Undang-Undang Nomer 5 Tahun 1990 perihal Konservasi Sumber Daya Alam Jiwai serta Ekosistemnya dengan intimidasi hukuman penjara paling lama 5 tahun serta denda terbanyak Rp 100 juta. Sesaat terduga S sekarang ini masuk dalam daftar pelacakan orang (DPO) .

” Satwa-satwa endemik Indonesia timur itu ada ke Pelabuhan Juwana dengan kapal nelayan. Butuh pengamatan serta kerja sama berkaitan semuanya stakeholder pada pelabuhan rakyat serta kapal-kapal nelayan yang tertengarai berubah menjadi fasilitas masuknya satwa yang dilindungi dari serta ke luar pulau Jawa, ” ucapkan Fadil Imran.