Home / Berita Umum / Musim Kemarau, Warga Sulsel Gunakan Air Empang untuk Keperluan Sehari-hari

Musim Kemarau, Warga Sulsel Gunakan Air Empang untuk Keperluan Sehari-hari

Musim Kemarau, Warga Sulsel Gunakan Air Empang untuk Keperluan Sehari-hari – Mulai sejak dua bulan paling akhir, beberapa ratus masyarakat di pesisir lokasi Maros, Sulawesi Selatan mulai alami krisis air bersih karena kemarau. Beberapa dari masyarakat sangat terpaksa memakai air empang yg kotor serta keruh untuk kebutuhan sesehari, seperti untuk mandi serta membasuh. Mereka berebutan dengan bebek di tempat yg sama.

Di dusun Mangara Bombang, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Maros, Sulawesi Selatan, semisalnya, tiap-tiap pagi serta petang beberapa puluh masyarakat ambil air dalam sebuah empang yg airnya keruh bercampur lumpur. Mereka tdk miliki alternatif lain, sesudah dua sumur mereka jadi kering mulai sejak beberapa saat paling akhir sebab kemarau.

Mereka sangat terpaksa memakai air empang yang difungsikan hewan ternak untuk minum. Masalahnya air bersih cuma dapat mereka capai dengan beli dari masyarakat yg punyai mobil pengakut air serta bak penampungan. Air bersih yg mereka beli itu, cuma dimanfaatkan untuk minum dan memasak.

” Hampir dua bulan kondisinya berikut. Air ini kita pakai untuk mandi serta membasuh. Tetapi kami kasi tawas dahulu agar tdk keruh. Bila untuk minum, kami beli dari pengatar air. Harga nya itu lima ribu rupiah untuk tiga jerigen ukuran 10 liter, ” kata seseorang masyarakat, Sintia, Minggu (12/8/2018).

Masyarakat yg ambil air di empang ini, rata-rata wanita serta anak-anak. Ada yg memakai kendaraan, tapi adapula yg berjalan kaki sejauh dua km. sekalian menjunjung ember atau jerigen yg berisi air dari empang itu. Buka cuma sekali, mereka mesti pulang balik sampai dua atau 3 kali tiap-tiap pagi serta petang.

” Sudah terbiasa kita berikut tiap-tiap tahun, menjadi tidak di rasakan capeknya. Yah dari kita beli air, kan automatic kasi keluar uang lagi. Bila dapat ditangani mengapa mesti beli, ” lanjutnya.

” Rata-rata bila pergi sekolah kita bawa pula jerigen terus di isi dahulu. Pulangnya baru kita bawa pula. Nah sore, kita ada lagi mengambil air, rata-rata hingga sampai lima kali 1 hari pulang pergi gunakan sepeda berikut, ” kata seseorang anak SD, Rahmah.

Keadaan yg di alami oleh masyarakat ini udah tiap-tiap tahun dirasa kala musim kemarau. Tidak hanya sebab wilayahnya ada di dekat laut yg hampir tdk ada mata air bersih, aksesnya yg jauh juga bikin pemerintah tdk dapat menempatkan instalasi air bersih dari perkotaan.

Akan tetapi, masyarakat mengharap pemerintah pengin memberi perlindungan air bersih lewat cara gratis. Masalahnya masyarakat pesisir lokasi utara Maros ini umumnya masyarakat kurang bisa, hingga untuk beli air bersih yg sudah di siapkan, juga mereka terasa sangatlah berat.

About admin